D4 Perpustakkan Digital & D4 Desain Mode

Universitas Negeri Malang

Malang

Batik Malang

Sejarah Batik Malang

Batik Malang biasa disebut Batik Malangan. Batik Malang memang belum sepopuler batik yang ada di daerah Jawa, namun keindahaan Batik Malang tidak kalah bagusnya dengan batik yang ada di daerah lain karena memiliki corak batik tersendiri yang khas dan unik. Sebenarnya Malang sejak masa Kerajaan Kanjuruhan maupun Kerajaan Singosari telah memiliki ciri khas batiknya, namun karena pada masa itu Malang sebagai pusat kekuasaan yang mengedepankan ilmu kanuragan dan kadigdayaan untuk mendukung stabilitas kekuasaan sehingga perkembangan batik justru terabaikan. Sejarah batik Malang diawali dari batik khas pedalaman Malang yang telah dipakai dalam upacara adat sejak sebelum tahun 1900-an. Batik tersebut selalu mempunyai motif Sidomukti Malang dengan hiasan kotak putih di tengah yang biasa disebut Modhang Koro. Motif ini dipakai sebagai udheng (laki-laki) dan sewek (perempuan) dalam acara resmi untuk semua lapisan masyarakat.

Batik Malang

Ciri Khas Batik Malang

Motif Dasaran

Motif dasar pada kain Batik Malang sering kali mengambil inspirasi dari Candi Badut, peninggalan Kerajaan Kanjuruhan yang berdiri pada tahun 760 M. Bentuk-bentuk arsitektural dari candi ini sering kali dijadikan pola latar pada batik.

Motif Isen-Isen

alah satu isen-isen yang paling mencolok adalah gambar Tugu Malang, sebuah ikon kota yang disandingkan dengan rambut singa berwarna putih, simbol dari Kabupaten Malang. Ini memberikan identitas yang kuat pada batik ini, mencerminkan kebanggaan lokal.

Motif Hias

Bagian hias pada batik Malang sering kali berupa boket (hiasan pinggiran kain) yang dipenuhi dengan pola rantai bunga, sering kali bunga teratai, yang disusun secara simetris dan elegan.

Batik Malang

Jenis Jenis Batik Malang

Batik Malang

Motif Teratai Singo

Filosofi : Batik Teratai Singo menggambarkan harmoni antara kekuatan dan kesucian. Motif teratai, yang melambangkan kesucian, kebijaksanaan, dan ketenangan, berpadu dengan simbol singa (singo) yang merepresentasikan kekuatan, keberanian, dan kepemimpinan. 

Ciri khas motif : Memiliki ciri khas yang memadukan dua elemen kuat dalam budaya yakni bunga teratai dan singa. Warna-warna cerah khas Batik Malang, seperti emas, biru tua, dan merah, sering digunakan untuk mempertegas motif ini, menciptakan kain yang tidak hanya indah secara visual tetapi juga sarat akan makna filosofis. 

Sejarah motif : Batik Teratai Singo adalah perpaduan antara simbol kekuatan (singo) dan kemurnian (teratai), yang mencerminkan nilai keseimbangan dalam kehidupan. Motif ini tidak hanya memiliki nilai estetik, tetapi juga sarat dengan makna spiritual dan filosofi yang mendalam, yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam budaya Jawa.

Batik Malang

Motif Malang Kucecwara

Filosofi Motif Batik Malang Kucecwara merupakan salah satu batik khas dari Kota Malang yang memiliki keunikan tersendiri. Nama “Kucecwara” berasal dari semboyan Malang, yang berarti “menghancurkan kejahatan” atau “mengatasi rintangan,” mencerminkan semangat perjuangan dan keberanian. Ciri khas utama motif ini adalah penggunaan simbol-simbol lokal seperti Gunung ArjunaTugu Malang, dan candi-candi peninggalan Kerajaan Singosari yang menjadi ikon sejarah dan budaya Malang. Motif ini sering kali dipadukan dengan pola bunga teratai atau melati, melambangkan kesucian dan kejayaan. Warna-warna yang dominan dalam batik Kucecwara adalah biru tua, cokelat, dan putih, yang memberikan kesan elegan namun tetap kuat. Motif ini tidak hanya menjadi simbol kebanggaan masyarakat Malang, tetapi juga menggambarkan filosofi hidup tentang perjuangan melawan hal buruk demi mencapai kebajikan dan keindahan. 

Ciri khas motifTerdapat salah satu motif yang unik dan khas dari Batik Malang yaitu motif Malang Kucecwara. Motif ini memiliki filosofi yang mendalam yaitu terdapat simbol gambar Tugu MalangMahkotaRumbai SingaBunga TerataiArca, dan Sulursulur serta isen isen belah ketupat. 

Tugu Malang merupakan simbol kota Malang yang merupakan prasasti berdirinya kota tersebut. Juga sebagai perlambang keperkasaan dan ketegaran. Diharapkan pemakainya menjadi orang yang kuat dan tegar dalam menjalani kehidupan. Mahkota merupakan simbolisisasi Mahkota Raja Gajayana yang pernah membawa Malang mencapai puncak kejayaannya. Diharapkan pemakainya bisa mencapai puncak kejayaan dalam hidupnya. 

Rumbai Singa melambangkan ikon kota Malang yang berjutuk “Singo Edan” yang melambangkan semangat yang menyala-nyala dan pantang menyerah. Diharapkan pemakainya juga senantiasa memiliki sifat yang demikian. 

Bunga Teratai merupakan salah satu simbol kota Malang, yang melambangkan keindahan juga kesuburan Pada cerita kuno, bunga teratai merupakan bunga tempat Dewa Wishnu dewa pemelihata alam, bertahta. Diharapkan pemakainya senantiasa subur makmur dan terpelihara jiwa dan raganya. Arca merupakan perlambang kekayaan khasanah kota Malang yakni candi Singosari yang pernah menghantarkan Malang menjadi salah satu kekuatan dunia di Nusantara pada masa silam.

Sulur- Sulur merupakan simbol bahwa kehidupan itu akan terus berlangsung, tumbuh dan berkembang. Ada sulur yang terhenti sebagai simbol bahwa kehidupan tidak kekal namun, sebelum terhenti ada sambungan berikutnya Yang menunjukkan bahwa manusia itu akan musnah, namun akan selalu berganti generasi yang baru Diharapkan pemakainya senantiasa bisa introspeksi diri bahwa manusia itu makhluk yang fana.

Isen-Isen Belah Ketupat merupakan simbol dari relief candi Badut yang merupakan salah satu khasanah kekayaan budaya Kabupaten Malang Belah ketupat memberi makna pengakuan bahwa manusia tidaklah sempurna, sehingga sangat tidak pantas untuk menyombongkan diri. Digharapkan pemakainya bisa senantiasa introspeksi diri.

Sejarah motifMotif Batik Malang Kucecwara memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan legenda dan budaya Kota Malang. Nama “Kucecwara” berasal dari semboyan Kota Malang, yaitu “Malang Kucecwara,” yang berarti “Tuhan menghancurkan yang bathil, menegakkan yang benar.” Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, dan menjadi simbol keberanian serta keadilan bagi masyarakat Malang. Motif batik ini umumnya menggabungkan berbagai elemen khas, seperti gambar singa, candi, dan bunga teratai, yang melambangkan kekuatan, kebijaksanaan, dan kemurnian. Kehadiran unsur-unsur tersebut mencerminkan keagungan sejarah Kerajaan Kanjuruhan, yang merupakan kerajaan tertua di Jawa Timur dan berdiri di wilayah Malang. Seiring waktu, motif ini berkembang menjadi simbol identitas budaya lokal dan sering digunakan dalam acara adat dan resmi, menunjukkan kebanggaan masyarakat Malang akan warisan budaya dan filosofi perjuangan yang luhur. 

Batik Malang

Motif Ulat Bulu

Filosofi Motif batik ini menceritakan tentang ketidakseimbangan ekosistem yang disebut-sebut sebagai sebab munculnya wabah ulat bulu. Sedikitnya pemangsa ulat bulu digambarkan dengan burung atau kupu-kupu yang jumlahnya hanya sebuah. Sedangkan ulat bulu yang ada pada daun berjumlah banyak lengkap dengan telurnya.

Motif batik ulat bulu diproduksi secara terbatas karena memiliki tujuan khusus, yakni menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Pesan ini ditujukan kepada instansi pemerintah melalui media batik. Kasus wabah ulat bulu yang diangkat menjadi motif batik menunjukkan bahwa batik tidak sekadar berfungsi sebagai bahan pakaian bagi masyarakat Jawa. Sebagai karya seni, batik juga berperan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan penting, selain memiliki nilai estetika. Dalam hal ini, batik menjadi media yang dipilih untuk mengekspresikan fenomena wabah ulat bulu sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. 

Ciri khas motif Motif yang digambar lengkap dengan daun dan telur ulat bulu. Ada juga gambar seekor burung atau kupu-kupu yang melambangkan hewan langit, pemangsa ulat bulu. 

Sejarah motif Hanan Abdul Jalil, seorang pengusaha batik asal Malang, menciptakan motif batik baru yang terinspirasi dari fenomena lingkungan sekitar. Pada bulan Maret hingga April 2011, Indonesia dilanda wabah ulat bulu yang cukup mencolok, dimulai dari Probolinggo, Jawa Timur, dan menyebar ke berbagai daerah di sekitarnya. Wabah ini disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah (“Ini Wabah Ulat Bulu Terparah dalam Sejarah”, 2011). Ulat bulu dalam jumlah besar terlihat di pohon-pohon dan bahkan menutupi dinding-dinding rumah. Untuk mengatasi situasi tersebut, banyak warga terpaksa menebang pohon berdaun lebat agar mengurangi habitat ulat bulu.

Pemandangan yang tidak biasa ini menjadi inspirasi bagi Hanan Abdul Jalil untuk menciptakan motif batik bergambar ulat bulu. Dalam motif tersebut, ia menggambarkan ulat bulu lengkap dengan daun dan telur-telurnya. Selain itu, terdapat gambar seekor burung atau kupu-kupu yang melambangkan pemangsa ulat bulu dan keseimbangan alam. Motif ini bercerita tentang ketidakseimbangan ekosistem, yang dipercaya menjadi penyebab munculnya wabah tersebut. Jumlah burung atau kupu-kupu yang digambarkan hanya satu ekor mencerminkan minimnya pemangsa ulat bulu, sementara ulat bulu yang memenuhi daun dalam motif tersebut melambangkan populasi ulat yang tidak terkendali.

Add Your Heading Text Here

Add Your Heading Text Here

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo. 

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar d

Scroll to Top