Jombang
Batik Jombang
Sejarah Batik Jombang
Pada tahun 2000, Ibu Hj. Maniati diundang oleh Dinas Perindustrian Kabupaten Jombang untuk membahas pelatihan membatik. Pada 8–10 Februari tahun yang sama, beliau bersama putrinya mengikuti kursus batik tulis dengan pewarna alami yang diadakan oleh “Dinas Perindustrian Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur” di Surabaya. Sepulang dari kursus tersebut, Ibu Hj. Maniati, putrinya, dan ibu-ibu PKK semakin giat membatik.
Pada Desember 2000, Ibu Hj. Maniati meresmikan usaha batik dengan nama “Sekar Jati Star” yang berlokasi di Desa Jatipelem. Di waktu yang sama, Bupati Jombang menginisiasi kursus membatik di desa tersebut dengan peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Jombang. Pada 16 Desember 2004, usaha Ibu Hj. Maniati resmi memperoleh izin usaha tetap dengan nama “Batik Tulis Sekar Jati Star” melalui Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) bernomor 00423/13-19/SIUP-K/IX/2004. Selain Ibu Hj. Maniati, batik Jombang juga dikembangkan oleh Ibu Kusmiati Slamet dari Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek. Dengan modal awal sebesar Rp 2 juta, pada tahun 2002 Ibu Kusmiati mulai memberdayakan tetangganya sebagai tenaga kerja untuk membuat berbagai motif batik, termasuk motif khas relief Candi Rimbi.
Ide ini berawal dari keinginan masyarakat sekitar untuk belajar membatik dengan motif yang menggambarkan kekayaan budaya Kerajaan Majapahit, mengingat Jombang dulunya bagian dari Mojokerto, yang memiliki sejarah nenek moyang yang sama dari Majapahit. Untuk mendukung pengembangan batik Jombang, pemerintah setempat mengadakan berbagai workshop. Berkat dukungan pemerintah dan semangat yang tinggi, usaha batik Ibu Kusmiati Slamet berkembang pesat, tidak hanya dikenal di lingkungan pemerintahan, tetapi juga menembus pasar internasional.
Batik Jombang
Jenis Jenis Batik Jombang
Batik Jombang
Motif Jombang "Merah"
Filosofi : Motif batik Jombang “Merah” mencerminkan semangat, keberanian, dan tekad yang kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan. Warna merah melambangkan energi positif, jiwa yang pantang menyerah, serta kecintaan pada nilai-nilai budaya lokal. Motif ini juga menggambarkan harmoni antara keberanian untuk berubah dan keterikatan pada tradisi, menjadikannya simbol kebanggaan masyarakat Jombang atas identitas mereka yang kaya akan nilai dan makna.
Ciri Khas :
a. Menggunakan 2 warna utama, yaitu warna merah dan hijau.
b. Unsur motif terdiri dari motif utama, yaitu berbentuk segitiga sulur dan daun (tumpal), motif isen-isen yang dibuat berbentuk 4 ornamen geometris, dan tidak ada motif latar.
c. Karena fungsinya sebagai seragam dalam jumlah yang banyak, sebagian besar batik Jombangan ini dibuat dengan cara printing.
Sejarah Motif : Pada awalnya motif batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, yaitu dengan motif bunga melati, tebu, cengkih, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Kemudian Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten Jombang (istri Bupati), bersepakat bahwa “Motif Batik Tulis Khas Jombang” diambil dari salah satu relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.
Pada penghujung tahun 2005, Bapak Bupati Jombang membicarakan motif batik khas Jombang. Dimana motif batik ini akan digunakan sebagai seragam para pegawai kabupaten Jombang. Ketika itu Bapak Bupati menunjukkan dua buah baju batik dengan motif relief Candi Arimbi. Baju tersebut bermotif batik warna merah dan yang satu lagi bermotif batik warna hijau. Setelah dipertimbangkan, untuk seragam pegawai di Jombang ternyata lebih baik menggunakan baju batik yang motifnya berwarna merah dan Bapak Bupati pun menyetujuinya.
Batik Jombang
Motif Jombang "Hijau"
Filosofi : Motif batik Jombang “Hijau” melambangkan keselarasan antara kehidupan manusia dengan alam, mencerminkan kehijauan yang melambai sebagai simbol kesuburan, harapan, dan keberlanjutan. Warna hijau yang mendominasi motif ini mencerminkan semangat hidup yang damai dan harmoni, selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Jombang yang menjunjung tinggi hubungan manusia, lingkungan, dan spiritualitas. Setiap guratan dan pola pada motif ini bercerita tentang perjalanan hidup yang seimbang, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari warisan budaya yang lestari.
Ciri Khas :
a. Menggunakan 2 warna utama, yaitu warna merah dan hijau.
b. Unsur motif terdiri dari motif utama, yaitu berbentuk segitiga sulur dan daun (tumpal), motif isen-isen yang dibuat berbentuk 4 ornamen geometris, dan tidak ada motif latar.
c. Karena fungsinya sebagai seragam dalam jumlah yang banyak, sebagian besar batik Jombangan ini dibuat dengan cara printing.
Sejarah Motif : Pada awalnya motif batik Jombang menggunakan motif alam sekitar, yaitu dengan motif bunga melati, tebu, cengkih, pohon jati dan lain sebagainya. Setiap motif yang diciptakan biasanya diberi nama, seperti cindenenan, peksi/burung hudroso, peksi manya dan turonggo seto (kuda putih). Kemudian Ibu Hj. Maniati bersama Ibu Bupati kabupaten Jombang (istri Bupati), bersepakat bahwa “Motif Batik Tulis Khas Jombang” diambil dari salah satu relief Candi Arimbi yang terletak di desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang. Candi Arimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit.
Batik Jombang
Motif Ringin Contong Tower
Filosofi : Nilai filosofi motif batik Ringin Contong Arimbi Terpadu, yaitu yang memakai batik ini berharap keberlimpahan kehidupan dengan tidak meninggalkan jati diri bangsa dan selalu menjunjung tinggi budaya yang sudah diwariskan leluhurnya, dilandasi dengan spiritulal Islami menuju kehidupan yang diridlohi Illahirobbi, penuh semangat dalam menjalani hidup sehari-hari. Seiring berjalannya waktu batik khas Jombangan mengalami perkembangan. Batik Jombangan divisualisasikan menggunakan unsur utama motif Candi Rimbi, Ringin Contong, dan Logo ASEAN. Candi Rimbi diambil dari sejarah awal batik Jombangan (Karya Bu Maniati). Ringin Contong adalah ikon daerah Jombang, sedangkan logo ASEAN dipakai sejak ada penetapan bahwa pertigaan Ringin Contong menjadi Taman ASEAN pada tanggal 2 Juni 2017 (Hidayat, 2017) Motif batiknya bernama Motif Batik Ringin Contong Tower.
Ciri Khas :
a. Motif berupa tandon air peninggalan penjajah yang persis letaknya di titik nol/sentral kota Jombang dan pohon beringin sebagai simbul pengayom.
b. Simbul huruf J yang berupa batang bunga Jombang dan simbul huruf B pada pohon batang bawah beringin juga simbul nama Jombang itu sendiri.
c. Matahari terlihat saat terbit merupakan simbul cahaya adanya kehidupan untuk alam ini.
d. Seuli padi dan daunnya di bawah tandon air merupakan Jombang sebagai lumbung pangan karena suburnya tanah pertanian yang luas.
e. Daun jati merupakan lambang pengingat kesejatian hidup manusia.
f. Daun tanaman bunga Jombang merupakan tanaman obat herbal yang kaya manfaat untuk kesehatan. Warna yang digunakan tergantung pada kreativitas pembatiknya.
Sejarah Motif : Motif batik Ringin Contong Tower merupakan salah satu warisan budaya khas Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang memiliki nilai historis dan filosofis mendalam. Motif ini terinspirasi oleh ikon daerah Jombang, yaitu menara air Ringin Contong, yang terletak di pusat kota. Menara air ini, dibangun pada masa kolonial Belanda, menjadi simbol penting bagi masyarakat Jombang karena berfungsi sebagai penanda pusat kota dan saksi perjalanan sejarah daerah tersebut. Pohon beringin yang mengelilingi menara menjadi lambang kekuatan, keteduhan, dan keberlanjutan. Dalam motif batik, unsur menara, beringin, dan elemen khas Jombang lainnya digabungkan dengan pola-pola artistik tradisional, menciptakan karya seni yang tidak hanya estetis tetapi juga sarat makna. Batik Ringin Contong melambangkan identitas lokal, kebanggaan budaya, dan semangat melestarikan tradisi bagi masyarakat Jombang.