D4 Perpustakkan Digital & D4 Desain Mode

Universitas Negeri Malang

Jember

Batik Jember

Sejarah Batik Jember

Sejarah batik di daerah Jember berakar sejak masa penjajahan Belanda, ketika batik mulai dikenal dan berkembang di kalangan masyarakat setempat. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi membatik ini sempat mengalami masa mati suri yang cukup panjang, akibat berbagai perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di daerah tersebut. Keadaan ini terus berlanjut hingga akhirnya, pada tahun 2010, semangat untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kerajinan batik mulai tumbuh di kalangan masyarakat, khususnya melalui inisiatif para pengrajin batik tulis di Rumah Batik Rolla.

Nama Batik Jember sendiri lahir bukan hanya sebagai penanda sebuah produk seni, tetapi juga dengan tujuan strategis untuk mendukung sektor pariwisata lokal. Penamaan ini diharapkan mampu memperkenalkan Jember sebagai salah satu sentra penghasil batik tulis baru di Provinsi Jawa Timur. Lebih dari itu, keberadaan batik ini turut memperkuat citra dan identitas Jember yang sebelumnya sudah dikenal luas sebagai daerah penghasil tembakau terkemuka. Dengan demikian, Batik Jember menjadi simbol kebangkitan budaya lokal sekaligus alat untuk mempromosikan potensi daerah dalam skala yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Batik Jember

Ciri Khas Batik Malang

Jember merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur, yang terletak di kawasan Tapal Kuda. Selain dikenal karena pergelaran Jember Fashion Carnival (JFC) yang telah mendunia, Jember juga dikenal sebagai Kota Tembakau. 

Sejak awal, batik Jember memang memiliki motif dan corak berbeda dengan batik Solo, Pekalongan, atau Jogja. Motif khas Jember lebih mengarah ke motif yang lebih bebas dan kontemporer. Umumnya, batik daerah ini memiliki corak khas, yaitu daun tembakau. Namun, sebagai pengusung kota kreatif Jember juga menciptakan motif terbaru yang terus berkembang.

Awalnya, muncul ragam motif yang menggambarkan kekayaan Jember selain tembakau. Misalnya, motif kopi, kakao, buah naga, bambu, kupu-kupu, burung dan sebagainya. Meskipun begitu, biasanya tetap menyertakan kombinasi motif daun tembakau sebagai ciri khas.

Belakangan, ada juga motif yang bersumber dari sejarah dan asal usul kerajaan setempat. Bahkan, batik juga telah mengalami kembangpadu yang kreatif dengan kain tenun. Karena itu, karya kain tradisional yang tercipta menjadi semakin kaya dengan variasi.

Batik Jember

Jenis Jenis Batik Jember

Batik Jember

Motif Labako/Tembakau

Filosofi :  Batik labako merupakan batik tulis khas Jember yang memiliki motif unik berupa daun tembakau. Motif tersebut terinspirasi dari komoditas unggulan Jember, yakni tanaman tembakau. Tidak hanya daun tembakau, motif batik Labako juga dikombinasikan dengan motif lainnya, seperti kakao, bunga-bunga, kopi, durian, dan lain sebagainya.

Batik Labako menampilkan motif daun tembakau yang khas dan unik, mencerminkan identitas Kabupaten Jember sebagai salah satu penghasil tembakau terbesar dan berkualitas tinggi di Indonesia. Motif ini juga mengangkat nilai-nilai budaya lokal, khususnya yang berkaitan dengan sektor industri tembakau di daerah tersebut.

Labako berasal dari dua kata, yakni “lah” yang merupakan potongan dari kata “mengolah” dan “bako” yang berasal dari kata “tembakau”. Oleh karena itu, labako dapat diartikan menjadi mengolah tembakau. 

Selain sebagai simbol budaya, Batik Labako juga merupakan wujud rasa syukur atas pesatnya perkembangan industri tembakau di Jember. Industri ini telah membawa banyak manfaat bagi masyarakat, seperti membuka peluang kerja dan meningkatkan pendapatan daerah yang mendukung pembangunan di Jember.

Ciri Khas : Motif Batik Jember umumnya banyak terinspirasi dari potensi sumber daya alam yang ada di Kabupaten Jember, yaitu seperti kakao, tembakau, kopi, bambu, buah naga, burung dan kupu-kupu. Namun motif bergambar daun tembakau menjadi ciri khas yang paling dominan diantara motif lainnya. Motif batik ini memanglah bukan motif batik standar dan merupakan batik kreasi yang tidak pernah diajarkan secara turun temurun oleh para pengrajin batik, namun sejak zaman dahulu motif tembakau pada batik jember ini merupakan ciri khas utama.

Sejarah Motif : Batik motif tembakau Jember memiliki akar budaya yang erat dengan sejarah panjang daerah Jember sebagai salah satu penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Sejarah motif ini tidak terlepas dari perkembangan perkebunan tembakau di Jember sejak masa kolonial Belanda. Pada abad ke-19, Belanda membuka perkebunan tembakau di Jember, yang kemudian menjadi salah satu komoditas utama ekspor dari wilayah tersebut. Keberhasilan ini menjadikan tembakau sebagai simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Jember.

Dalam konteks batik, motif tembakau diangkat sebagai representasi dari warisan agraris daerah ini. Daun tembakau yang khas dan indah memberikan inspirasi bagi para pengrajin batik untuk menciptakan pola yang unik dan sarat makna. Motif ini biasanya menggambarkan dedaunan tembakau yang menjalar dengan detail halus, melambangkan kesejahteraan, kerja keras, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Batik Jember

Motif Pesadeng

Filosofi :  Secara filosofis, makna motif Pesadeng merupakan gambaran sejarah kerajaan kecil yang terletak di desa Sadeng, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember. Karena itu, motif batik Sadeng menggambarkan bagaimana kondisi keseharian kerajaan kecil dengan wilayah yang makmur tersebut. 

Ciri Khas : Dalam satu lembar kain motif Pesadeng, bisa memuat delapan motif gambar. Mulai dari cuping, keris, daun sadeng, gapura hiasan gelang kerajaan, suraya mada atau stempel kerajaan Majapahit, mahkota, dan panji-panji. Semua tergambar satu persatu dengan canting. Selain itu, warna dasar Pasadeng juga lebih elegan. Biasanya, Pasadeng menggunakan warna dasar putih alami dengan gambar motif penuh. 

Sejarah Motif : Akhir tahun 2019, simposium pembatik muda Jember menginisiasi penciptaan motif Pasadeng. Penyebabnya, motif daun tembakau yang selama ini identik dengan batik Jember ternyata menjadi ikon motif batik daerah lain. Jadi, daerah Temanggung, Jawa Tengah yang juga menjadi penghasil tembakau juga menghasilkan motif yang serupa. Karena itu, pengrajin muda lokal mencari terobosan alternatif motif terbaru dengan menggali sejarah dan asal usul kerajaan lokal. Maka, terciptalah motif Pasadeng.

Pengrajin batik di Jember masih jarang yang membuat motif Pasadeng. Penyebabnya, motif batik Pasadeng memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi daripada motif batik tembakau pada umumnya. Motif Pasadeng penuh dengan detail gambar canting pada kain. Beda dengan motif batik daun tembakau yang arang-arang alias renggang.

Scroll to Top