Banyuwangi
Batik Banyuwangi
Sejarah Batik Banyuwangi
Sejarah batik Banyuwangi dimulai dari peristiwa penaklukan Kerajaan Blambangan oleh Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Pada masa tersebut, Kesultanan Mataram di bawah kekuasaan Sultan Agung melancarkan serangan ke wilayah timur, termasuk Blambangan, Panarukan, dan Blitar, pada tahun 1633 Masehi. Meskipun upaya penaklukan pertama mengalami kegagalan, Kesultanan Mataram berhasil menaklukkan Blambangan pada tahun 1636-1639 Masehi. Setelah Blambangan dikuasai, banyak penduduknya yang dibawa ke pusat pemerintahan Mataram di Plered, Kotagede. Peristiwa ini diduga menjadi awal mula kemunculan batik Banyuwangi. Diketahui bahwa batik telah dikenal dalam tradisi keraton Jawa sejak abad ke-15, terutama pada masa pemerintahan Sultan Agung. Oleh karena itu, kemungkinan besar penduduk Blambangan yang dibawa ke Mataram kemudian mempelajari seni batik dan membawanya kembali ke tanah kelahiran mereka. Meskipun demikian, pengaruh Mataram dalam motif batik Banyuwangi tidak begitu terlihat. Berbeda dengan batik dari daerah lain seperti Madura, Ponorogo, Pacitan, dan Trenggalek yang jelas memiliki pengaruh Mataram. Hal ini diungkapkan oleh Azhar Prasetyo dalam bukunya “Batik Banyuwangi” (2007) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Blambangan.
Batik Banyuwangi
Jenis Jenis Batik Banyuwangi
Batik Banyuwangi
Motif Gajah Oling
Filosofi dan Makna : Motif ini menjadi simbol masyarakat Banyuwangi. Kata Gajah artinya sesuatu yang besar, dan Oling memiliki maksud mengingat. Dengan kata lain, makna dari Batik Gajah Oling adalah menngingat kepada Yang Maha Besar.
Ciri Khas Motif : Ciri khas motif Gajah Oling dalam batik Banyuwangi adalah gambaran elemen gajah yang digambarkan secara simbolis dengan bentuk tubuh gajah yang melengkung, biasanya dengan belalai yang melilit atau melengkung. Motif ini sering kali menggabungkan pola-pola geometris atau natural yang mencerminkan kekuatan dan kebijaksanaan.
Sejarah Motif : Motif Gajah Oling berasal dari Banyuwangi dan memiliki sejarah yang berkaitan dengan budaya dan kepercayaan masyarakat setempat. Motif ini awalnya digunakan dalam batik tradisional sebagai simbol untuk menunjukkan keteguhan dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan. Seiring berkembangnya waktu, motif Gajah Oling menjadi salah satu identitas budaya yang sangat dihargai di Banyuwangi.
Batik Banyuwangi
Motif Kangkung Setingkes
Filosofi dan Makna : Kangkung Setingkes dapat dipahami dari 2 suku kata. Kangkung adalah jenis tumbuhan sayuran yang memiliki banyak daun dan ranting, sedangkan setingkes memiliki arti terikat. Jadi, motif ini memiliki arti kesatuan dalam keberagaman.
Ciri Khas Motif : Ciri khas motif Kangkung Setingkes dalam batik Banyuwangi adalah gambar daun kangkung yang terkesan sederhana namun elegan. Motif ini biasanya menampilkan daun kangkung yang digambarkan dalam pola yang melingkar atau saling menyambung, mencerminkan keteraturan dan keselarasan alam.
Sejarah Motif : Motif Kangkung Setingkes berasal dari Banyuwangi dan memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat setempat yang sangat bergantung pada alam dan pertanian. Kangkung, sebagai tanaman air yang mudah tumbuh di sekitar daerah tersebut, menjadi simbol kesuburan dan kelimpahan.
Batik Banyuwangi
Motif Paras Gempol
Filosofi dan Makna : Filosofi dan makna dari motif Paras Gempal dalam batik Banyuwangi melambangkan kekuatan, keteguhan, dan keindahan. “Paras” berarti wajah, sementara “gempal” mengacu pada bentuk tubuh yang kuat dan tegap.
Ciri Khas Motif : Ciri khas motif Paras Gempal dalam batik Banyuwangi terletak pada penggambaran wajah atau paras manusia yang digambarkan dengan bentuk yang tegas dan penuh ekspresi. Motif ini menampilkan garis-garis yang jelas dan kuat, menggambarkan karakteristik fisik yang berisi dan tegar, yang mencerminkan keteguhan serta kekuatan
Sejarah Motif : Motif Paras Gempal berasal dari Banyuwangi dan memiliki sejarah yang berkaitan dengan karakter dan kekuatan masyarakat setempat. Dalam budaya Banyuwangi, motif ini menggambarkan kualitas mental dan fisik yang kokoh, yang menjadi ciri khas masyarakatnya yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.